Imam Ghazali (450 - 505 H)
Bergabung dengan kompasiana.com kemudian mengirim tulisan dan memberi tanggapan sudah menjadi jadual rutin sehari hari. Paling tidak 1-2 jam waktu tersita berhubungan intim dengan si ana yang manis terkadang agak rewel dan menjengkelkan. Dalam berhubungan mesra itu, kompasianer tidak terlepas dan kemudian terbiasa dengan predikat dan kata kata ter, ter dan ter. Ada ter-aktual, ter-rekomendasi, ter-verivikasi dan terakhir ter-dokumentasi. Ada lagi predikat yang menjadi idaman kompasianer yaitu HL (Head Line) dan HighLigh. Semua kewenangan itu ada di Admin kompasiana, yang memiliki otoritas penuh dalam menilai posting dan kemudian memilih untuk selanjutnya menaikkan tulisan itu ke tingkatan derajat ter …ter… ter….. ter….sebut.
Nah, untuk lebih menyenangkan hati saya dan mungkin beberapa kompasiner lainnya (karena peluang untuk menjadi ter ter ter di kompasiana sangat kecil sekali) ada baiknya, kita merefleksi kembali pendapat Imam Ghazali tentang ter ter ter itu. Bagi rekan rekan kompasianer berlatar belakang Pesantren atau Perguruan Islam, nama Imam Ghazali sudah tidak asing lagi. Seorang Filsuf Agama Islam yang sangat berpengaruh dalam perjalanan Sejarah islam. Buku buku beliau terutama Ihya Ulumuddin menjadi bacaan wajib dibeberapa pesantrean.
Izinkan saya mengambil pelajaran dari peninggalan Beliau terkait dengan ter ter ter tersebut dikaitkan dengan dunia maya yang sedang kita geluti. Imam Ghazali menyatakan bahwa dalam menjalani hidup dan kehidupan dunia ini terdapat 6 hal penting yang sangat lekat dengan manusia :
- Ter-dekat,
- Ter-jauh,
- Ter-besar,
- Ter-berat,
- Ter-ringan
- Ter-tajam
Tentang yang terjauh, Imam Ghazali menegaskan adalah masa lalu. Masa lampau sangat jauh dan tidak mungkin ditempuh oleh pesawat dengan kecepatan super. Masa lalu terkadang suka dibuatkan film atau sinetron, namun peristiwa itu adalah fiksi semata, jauh dari alam nyata. Jawaban murid Sang Imam yang mengatakan yang terjauh planet atau bulan dibenarkan karena manusia katanya bisa sampai disana, tetapi sampai kemasa lalu mungkin hanya bisa terjadi dalam mimpi. Pesan Beliau, gunakan waktumu sekarang dengan sebaik baiknya, karena detik, menit, jam, hari tidak bisa ditahan kahadirannya, karena mau tidak mau waktu akan lewat begitu saja…
Terbesar atau paling besar dalam kehidupan manusia adalah hawa nafsu. Imam Ghazali menegaskan kembali bahwa hawa nafsu yang tak terkendali akan menyulitkan manusia itu sendiri. Mereka diberikan panca indera seharusnya digunakan untuk kebaikan sesama manusia, namun peran serta syaithan telah memperdayakan diri manusia sehingga oknum oknum itu melanggar tata krama kehidupan, merugikan orang lain dan resikonya di kucilkan oleh masyarakat.
Imam Ghazali menegaskan bahwa yang paling berat atau ter-berat adalah memikul amanah. Amanah diciptakannya manusia sejatinya hanyalah untuk mengabdi kepada TuahnYang Maha Kuasa dimuka bumi ini dalam kaitannya habblunminallah. Dalam kaitan hubungan antara manusia, amanah adalah suatu janji yang wajib dipenuhi. Orang tua kandung diberikan amanah atau titipan Ilahi untuk mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang, membentuk karakter anak menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa. Amanah dalam hubungan pekerjaan adalah disiplin untuk selalu patuh dengan peraturan dan menyelesaikan setiap pekerjaan yang ditugaskan dengan baik dan tuntas.
Meninggalkan kewajiban shalat 5 waktu bagi umat Islam menurut Imam Ghazali adalah yang ter-ringan. Pekerjaan dan kesibukan lainnya terkadang menjadi alasan untuk menunda nunda shalat pada awal waktu ditempat dimana azan dikumandangkan berjamaah. Alasan klasik ini memang sering di justifikasi untuk menunda nunda Shalat, padahal dengan segera mengambil air wudhu sebenarnya kewajiban ini bisa segera ditunaikan. memang ringan dan pengabaian inilah yang menjadi kebiasaan buruk.
Terakhir yang ter - tajam menurut jawaban murid Imam Ghazali adalah pisau, badik dan pedang. Secara fisik memang benda benda tajam itu bisa melukai, namum Iman menegaskan bahwa yang paling tajam adalah lidah manusia. Lidah bisa melukai hati dan perasaan manusia, luka yang sangat dalam dan sulit untuk dilupakan. Kita sering mendengar pepatah bahwa lidahmu adalah harimaumu, untuk kompasianer tulisanmu (yang kurang baik) adalah harimaumu. Menulis yang baik baik untuk kemaslahatan umat akan mendapatkan predikat Pena Sehat.
Demikian ter ter ter menurut filsuf Imam Ghazali, semoga bermanfaat. Suatu hal yang paling saya sukai di kompasiana selain ter ter ter itu adalah ter-dokumentasi- nya setiap tulisan yang berhasil di posting secara permanen di dunia maya. Termasuk tulisan ini. Akhirnya, paling tidak ada satu lagi ter yang menyejukan hati kita apakah itu, … yaitu ter -sebut. Tulisan kita akan banyak disebut sebut (paling disebut = dibicarakan) kompasianer bila tulisan itu memberikan pencerahan bagi sesama. Yes ter - sebut,.. disebut sebut
Salam Ter - Sebut
Previous Article

Responses
0 Respones to "Tertajam dan, ter…. , ter…. Lainnya Versi Imam Ghazali"
Posting Komentar