Ketika bertemu di depan lift itu,….
Sungguh sangat tidak enak ketika di pandang dengan sorotan mata curiga, seolah olah kami pelaku kriminal. Peristiwa itu terjadi di depan lift salah satu hotel di Amsterdam, rombongan orang bule itu mengurungkan masuk lift ketika melihat kami. Kami saling berpandangan heran, kenapa mereka tidak mau bersama kami dalam satu lift.
Kejadian itu berulang lagi, keesokan harinya dan hari hari berikutnya selama di negeri kincir angin, di Belgia dan Perancis. Bukan saja di lift, di lobby hotel, di restoran dan di fasilitas umum lainnya kami merasakan perlakuan serupa, mereka berusaha menghindar berdekatan dengan kami orang indonesia.
Kenapa tuan tuan tak mau bersama kami,……
Apa salah kami tuan tuan,……
Akhirnya kami mendapat bisikan mesra dari saudara indonesia yang mukim di negara eropa. Perlakuan diskriminasi terhadap orang orang berkulit sawo matang, berhidung tidak begitu mancung dan tinggi badan sedang sedang saja terjadi setelah di negara Republik Indonesia sering terjadi kerusuhan kerusuhan massal dan bom bom bersahutan meledak.
Kami bukan terorist
Bule bule itu selalu curiga dengan sosok melayu berciri khas seperti kita, mereka menyangka seluruh orang melayu itu adalah terorist. Walaupun kita tidak mengenakan baju batik ataupun berkopiah peci hitam sebagai simbol internasional bangsa indonesia, mereka tahu saja kalau kita lain dari mereka. Ini lah perawakan orang asia khususnya indonesia.
Apakah tampilan ini masih menyeramkan, padahal kami sudah berlagak menggenakan busana standar eropa dengan stelan jas lengkap berlapis lapis (musim dingin) dengan dasi, bersepatu mengkilap. Walaupun sudah meng internasional kan men performance batng tubuh ini mati matian, tetap saja bule bule itu mampu meng identifikasi wong indonesia. Jadi, inilah konsekkuensi bangsa ini ketika bertandang ke luar negeri, khususnya ke eropa. Mereka menganggap semua WNI berbahaya, mereka merasa kurang nyaman, takut bersama kita berada disuatu tempat.
Memang sangat menyakitkan, itulah konsekuensi yang harus kita terima akibat ulah sebagian orang tak bertanggung jawab menciptakan kerusuhan massal didalam negeri, sehingga citra bangsa indonesia yang sebelumnya di kenal sebagai bangsa yang ramah tamah, sopan santun menjadi rusak. Kini orang berkulit putih, berambut pirang, berhidung mancung dan bersosok badan tinggi men label kita sebagai bangsa terorist.
Bukankah ini yang disebut PALING INDONESIA, saudaraku,…
Sesungguhnya kami bukan bangsa terorist, Tuan tuan.
Mudah mudahan citra buruk ini bisa kita perbaiki dengan prestasi.
Previous Article

Responses
0 Respones to "Kami Bukan Bangsa Terorist, Tuan,…."
Posting Komentar