Tunda Kenaikan BBM, Sambil Mempersiapkan Infra Struktur BBG
OPINI | 13 March 2012 | 07:07
Kenaikan Bahan bakar Minyak (BBM) sudah dapat dipastikan menambah pengeluaran anggaran rumah tangga. Pengeluaran itu akan bertambah untuk sektor transportasi dan untuk membeli bahan pokok kebutuhan dapur. Sementara pendapatan keuangann keluarga dalam posisi yang tetap. Akibatnya boro boro mau menambah simpanan di Bank, malah simpanan terpaksa ditarik untuk menyeimbangkan stabilitas keuangan keluarga dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup.
Kenaikan Rp. 1.500 harga premium atau 30 % dari harga semula akan memicu effek domino bagi kenaikan harga barang kebutuhan lainnya. Pengeluaran untuk biaya transportasi apakah warga itu memiliki kendaraan atau menggunakan jasa transportasi lainnya akan melonjak drastis. Demikian pula pengeluaran rumah tangga berbanding lurus meningkat, karena harga bahan pokok yang di jajakan pedagang sudah pasti “menyesuaikan”.
Pendapatan gaji yang tetap alias tidak dinaikkan, akan mempersulit keuangan keluarga. Apalagi kalau keluarga tersebut harus melunasi cicilan rumah, cicilan kredit kendaraan ataupun hutang hutang jangka panjang lainnya. Sudah pasti kondisi keuangan keluarga yang semakin memprihatinkan ini membuat setiap keluarga terpaksa mengencangkan ikat pinggang. Tidak ada lagi rekreasi, tidak ada lagi dana untuk membeli buku dan yang pasti pengeluaran guna kebutuhan tresier tersedot untuk menutupi kenaikan harga BBM.
Menjelang kenaikan BBM, kita saksikan demontrasi rakyat dimana mana. Hasil survey LSI menunjukkan bahwa 80 % warga menolak kenaikan BBM. Kerusuhan ini semakin meningkat sejalan dengan semakin dekatnya tanggal 1 April 2012 batas waktu diumumkannya kenaikan BBM oleh Pemerintah. Mumpung kenaikan harga ini belum ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden, ada baiknya Pemerintah meninjau kembali dan memikirkan dampak negatif yang akan ditimbulkan di seluruh nusantara.
Seharusnya DPR, bukan hanya berpikir secara logika keuangan dan subsidi, tetapi berpikirlah dengan hati nurani. Rakyat kecil yang sudah terseok seok kehidupannya akan semakin melarat. Mereka sepertinya sedang menuju tiang gantungan atau menuju liang lahat secara perlahan akibat kehidupan yang semakin sulit. Bagi the have mungkin tidak ada masalah dengan kenaikan harga BBM, karena mereka mempunyai cadangan “devisa” untuk 7 turunan, tetapi bagi komunitas rakyat ,kenaikan BBM ini merupakan malapetaka.
Apakah tidak ada alternatif lain untuk mengurangi subsidi BBM ini. Sebaiknya pemerintah dengan serius mempersiapkan infra struktur Bahan Bakar Gas (BBG) mulai tahun ini juga, kemudian tahun depan pengalihan penggunaan energi bisa dilakukan. Tunda saja kenaikan BBM. Jangan ambil resiko yang begitu besar terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara akibat salah mengambil kebijakan. Akhirnya rakyat jua yang menderita atau bisa juga berakibat Pemerintah saat ini bisa selesai tugasnya.
Apakah sedemikian buruk kondisi keuangan negara ini…tuan tuan yang berkuasa,…..
Kenaikan Rp. 1.500 harga premium atau 30 % dari harga semula akan memicu effek domino bagi kenaikan harga barang kebutuhan lainnya. Pengeluaran untuk biaya transportasi apakah warga itu memiliki kendaraan atau menggunakan jasa transportasi lainnya akan melonjak drastis. Demikian pula pengeluaran rumah tangga berbanding lurus meningkat, karena harga bahan pokok yang di jajakan pedagang sudah pasti “menyesuaikan”.
Pendapatan gaji yang tetap alias tidak dinaikkan, akan mempersulit keuangan keluarga. Apalagi kalau keluarga tersebut harus melunasi cicilan rumah, cicilan kredit kendaraan ataupun hutang hutang jangka panjang lainnya. Sudah pasti kondisi keuangan keluarga yang semakin memprihatinkan ini membuat setiap keluarga terpaksa mengencangkan ikat pinggang. Tidak ada lagi rekreasi, tidak ada lagi dana untuk membeli buku dan yang pasti pengeluaran guna kebutuhan tresier tersedot untuk menutupi kenaikan harga BBM.
Menjelang kenaikan BBM, kita saksikan demontrasi rakyat dimana mana. Hasil survey LSI menunjukkan bahwa 80 % warga menolak kenaikan BBM. Kerusuhan ini semakin meningkat sejalan dengan semakin dekatnya tanggal 1 April 2012 batas waktu diumumkannya kenaikan BBM oleh Pemerintah. Mumpung kenaikan harga ini belum ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden, ada baiknya Pemerintah meninjau kembali dan memikirkan dampak negatif yang akan ditimbulkan di seluruh nusantara.
Seharusnya DPR, bukan hanya berpikir secara logika keuangan dan subsidi, tetapi berpikirlah dengan hati nurani. Rakyat kecil yang sudah terseok seok kehidupannya akan semakin melarat. Mereka sepertinya sedang menuju tiang gantungan atau menuju liang lahat secara perlahan akibat kehidupan yang semakin sulit. Bagi the have mungkin tidak ada masalah dengan kenaikan harga BBM, karena mereka mempunyai cadangan “devisa” untuk 7 turunan, tetapi bagi komunitas rakyat ,kenaikan BBM ini merupakan malapetaka.
Apakah tidak ada alternatif lain untuk mengurangi subsidi BBM ini. Sebaiknya pemerintah dengan serius mempersiapkan infra struktur Bahan Bakar Gas (BBG) mulai tahun ini juga, kemudian tahun depan pengalihan penggunaan energi bisa dilakukan. Tunda saja kenaikan BBM. Jangan ambil resiko yang begitu besar terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara akibat salah mengambil kebijakan. Akhirnya rakyat jua yang menderita atau bisa juga berakibat Pemerintah saat ini bisa selesai tugasnya.
Apakah sedemikian buruk kondisi keuangan negara ini…tuan tuan yang berkuasa,…..


