inilah Calon Calon Preman Indonesia.
By Thamrin Dahlan
Menjadi preman itu tidak ujuk ujuk. Ada proses panjang yang dialami seorang anak manusia sebelum dia benar benar menggeluti profesi preman. Biasanya dunia kekerasan sudah akrab sejak usia muda bagi para preman ini. Lingkungan lah yang menjadikan mereka preman. Sebagai profesi mereka mempunyai organisasi bawah tanah, memiliki kode etik dan mempunyai pimpinan yang sering disebut dengan Boss.
Calon calon preman itu kini jelas nampak kasat mata bagi kita semua di lampu lampu merah. Disekitar lampu lampu merah kota kota besar sudah menajdi pemandangan umum, kita menyaksikan anak anak usia dini telah berproses menjadi preman. Anak lelaki dan anak perempuan ada disana, tidak sekolah lagi dan tidak mendapatkan hak layak hidup seperti teman teman seusianya. Mereka meminta minta, mengemis, mengamen dan lain sebagainya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Dari lampu merah ke istana,…(doc. from google.com)
Perhatikan dokumen foto diatas. Anak anak jalanan menuntut perbaikan kehidupan mereka. Pemerintah hanya mampu menugaskan Satpol PP yang tidak mengerti apa penyebab dari premanisme. Satpol PP bekerja dihilir, memenuhi perintah atatsannya. Pekerjaan yang tidak menyelesaikan masalah. Main tangkap, mengejar ngejar sepertinya anak jalanan itu terorist. Oh sungguh bodoh kebijakan menuntaskan kemiskinan seperti ini.
Dunia keras sudah dialami oleh anak anak negeri. Antara mereka sudah terjadi kekerasan dalam bentuk berebut, bersaing , sikut menyikut. Suatu hal yang biasa hukum rimba berlaku diareal dunia hitam ini, siapa yang kuat dia yang memang. Siapa yang lebih garang dia yang jadi penguasa atau boss. Komunitas ini hidup beratapkan langit berdindingkan angin. Nomaden, tidak jelas dimana mereka mandi cuci kakus, dimana berganti pakaian dan tidur. Semua keseharian hidupnya memanfaatkan fasilitas umum yang tersedia di sekitar tempat mereka mengais rezeki.
Bertahun tahun hidup dalam suasana kekerasan, membentuk watak mereka menjadi preman sesungguhnya. Seandainya anak anak ini survive dari narkoba dan hiv-aids, pada gilirannya mereka siap pindah tempat menjadi preman senior sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Faktor ekonomi adalah kesalaham utama pemerintah yang tidak mampu mensejahterakan rakyat sehingga anak anak ini berada di komunitas kekerasaan.Sebenarnya mereka tidak mau hidup dengan cara yangg tidak nyaman seperti itu, tetapi tidak ada lagi pilihan. Terpaksa memenuhi panggilan kampong tengah (perut)melalui dunia yang bersinggungan dengan pelanggaran hukum
Undang Undang Dasar 45 hanya terletak manis di rak rak buku para pemimpin nasional, apakah dia sebagai Eksekutif, Legislatif, atau Yudikatif. Amanat UU dalam Pasal 33 dan 34 terabaikan, terlupakan akibat para pejabat itu sibuk dengan urusan yang menyangkut perutnya sendiri dan kerabat dekatnya. Amanah yang diemban dilupakan. Para pejabat itu sebenarnya sering melewati lampu lampu merah, mereka pura pura tidak tahu bahwa sebagian dari saudara saudara sebangsanya sedang bergelut dalam kehidupan keras. Saudaranya itu akan menyulitkan situasi keamanan, saudaranya itu sedang berproses menjadi preman beneran
Premanisme tidak akan habis, kalau masalah kemiskinan ini tidak di antisipasi sejak dari hulu sampai kehilir. Kemiskinan menyebabkan kesengsaraan, kemiskinan menyebabkan warga bertindak melanggar hukum. Kekerasan Preman akan terus berlangsung, terus. Preman terus berganti generasi dengan modus operandi berbeda sesuai dengan perkembangan zaman.
Untuk itu hanya satu pertanyaan : Dimana di kau wahai Presiden Republik Indonesia 2009 -2014,……….
Semoga bermanfaat
salamsalaman
Jakarta, 25 Februari 2012
Previous Article

Responses
0 Respones to "Inilah Calon Calon Preman Indonesia."
Posting Komentar