Shalat Jum’at Mantan Wapres Alm (Jurnalis) Adam Malik
OPINI | 10 June 2011 | 09:10 Assalamualaikum wr wb,
Jum’at adalah penghulu hari, mari berupaya melakukan sebanyak mungkin amal kebajikan. Kenapa kita tidak Shalat Jum’at di Mesjid yang berbeda dari biasa. Sesungguhnya Mesjid akan menjadi saksi di akherat akan keberadaan kita, semakin banyak Mesdjid yang kita dikunjungi akan semakin banyak saksi menyertai. Jangan lupa menyentuh kotak amal dan mengisinya dengan infaq, banyak bersalaman, menyentuh tiang dan pintu masjid, Insya Allah semua itu akan menjadi saksi nanti di akherat tentang keberadaan kita di tempat ibadah yang suci.
Bapak Almarhum H Adam Malik selama menjabat sebagai Wakil Presiden tahun 1978 - 1983 mengamalkan ibadah shalat Jum’at di mesdjid mesdjid sekitar Jakarta. Almarhum mengambil kesempatan di hari penuh berkah itu untuk berslaturahmi dengan rakyat, bersalaman dan bertegur sapa. Rakyat riang gembira melihat kehadiran pemimpinnya disekitar mereka tanpa basa basi, dan semua itu memberikan semangat karena masih ada Bapak pemimpin yang peduli.
Pemimpin kerakyatan ini sangat dekat dengan rakyat, hal ini mungkin terjadi karena karier beliau berangkat dari seorang jurnalis. Seorang jurnalis, bergelut dengan sumber berita dan sumber berita itu ada di sekeliling kehidupan masyarakat sehari hari. Dengan demikian Beliau sangat paham dengan situasi perekonomian dan tentunya kebijakan pemerintah saat itu selalu berpihak kepada rakyat kecil. Dimasa Orde Baru, sembako murah, terdapat dimana mana, rakyat tidak dipusingkan masalah itu seperti yang terjadi saat ini.
Walaupun pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan jabatan jabatan prestise lainnya, Bapak Adam malik selalu memikirkan rakyat, denga tubuhnya yang tidak begitu besar, beliau lincah sehingga pernah dijuluki sebagai si kancil. Kedekatan ini lebih banyak di laksanakan dalam cara cara keagamaan, sehingga sentuhah sentuhan hati nurani, keberadaan beliau dirasakan manfaatnya bagi masyarakat kecil. Inilah sosok seorang jurnalis sejati
Tidak peduli dengan rambu rambu protokoler istana, sang Jurnalis ini santai saja ketika Shalat jum’at di beberapa Mesdjid, inilah pemimpin ideal yang sudah jarang kita temui di masa saat ini. Pejabat sekarang terkurung dengan protokoler atau beliau beliau itu menikmati protokoler itu kita tidak paham. Takutkah para Penguasa dekat dengan rakyat kecil, ataukah rakyat yang tidak berkenan menerima mereka. Bisa jadi kehadiran bapak bapak itu akan membikin macet, bikin repot, atau harus menyiapkan karpet merah dan fasilitas standard istana. Mana ada Mesdjid yang mampu menyiapkan segala sesuatu fasilitas itu, Bapak.
Seharusnya Shalat Jum’at sebagai ajang silaturahmi dengan rakyat kecil bisa di jadikan kegiatan rutinitas bagi para pemimpin orde reformasi, namun harapan masyarakat untuk berjumpa dengan pemimpinnya menjadi harapan hampa. Kecuali anda datang muhibah ke mesdjid Istana, siapa tahu bisa bersalaman dengan presiden Republik Indonesia. Kalau alasan protokol tidak bisa bersalaman anda bisa menyentuh dinding masjid sebagai alibi anda pernah kesana dan kalu dizinkan pengawal istana, berfotolah sejenak di beranda Mesdjid Baiturrahim.
Mari hari ini kita Shalat Jum’at di Istana, atau paling tidak di Mesdjid lain yang belum pernah ada datangi. Boleh juga menjadualkan shalat Jum’at di mesdjid Gedung DPR syukur syukur bisa menyampaikan aspirasi ke anggota dewan terhormat atau setidaknya bersalaman dan kalau boleh saling bertukar kartu nama, siapkan kartu nama yang tuliskan kompasiana.com/…….(your name)
Wassalamulaikum wr wb
Jum’at adalah penghulu hari, mari berupaya melakukan sebanyak mungkin amal kebajikan. Kenapa kita tidak Shalat Jum’at di Mesjid yang berbeda dari biasa. Sesungguhnya Mesjid akan menjadi saksi di akherat akan keberadaan kita, semakin banyak Mesdjid yang kita dikunjungi akan semakin banyak saksi menyertai. Jangan lupa menyentuh kotak amal dan mengisinya dengan infaq, banyak bersalaman, menyentuh tiang dan pintu masjid, Insya Allah semua itu akan menjadi saksi nanti di akherat tentang keberadaan kita di tempat ibadah yang suci.
Bapak Almarhum H Adam Malik selama menjabat sebagai Wakil Presiden tahun 1978 - 1983 mengamalkan ibadah shalat Jum’at di mesdjid mesdjid sekitar Jakarta. Almarhum mengambil kesempatan di hari penuh berkah itu untuk berslaturahmi dengan rakyat, bersalaman dan bertegur sapa. Rakyat riang gembira melihat kehadiran pemimpinnya disekitar mereka tanpa basa basi, dan semua itu memberikan semangat karena masih ada Bapak pemimpin yang peduli.
Pemimpin kerakyatan ini sangat dekat dengan rakyat, hal ini mungkin terjadi karena karier beliau berangkat dari seorang jurnalis. Seorang jurnalis, bergelut dengan sumber berita dan sumber berita itu ada di sekeliling kehidupan masyarakat sehari hari. Dengan demikian Beliau sangat paham dengan situasi perekonomian dan tentunya kebijakan pemerintah saat itu selalu berpihak kepada rakyat kecil. Dimasa Orde Baru, sembako murah, terdapat dimana mana, rakyat tidak dipusingkan masalah itu seperti yang terjadi saat ini.
Walaupun pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan jabatan jabatan prestise lainnya, Bapak Adam malik selalu memikirkan rakyat, denga tubuhnya yang tidak begitu besar, beliau lincah sehingga pernah dijuluki sebagai si kancil. Kedekatan ini lebih banyak di laksanakan dalam cara cara keagamaan, sehingga sentuhah sentuhan hati nurani, keberadaan beliau dirasakan manfaatnya bagi masyarakat kecil. Inilah sosok seorang jurnalis sejati
Tidak peduli dengan rambu rambu protokoler istana, sang Jurnalis ini santai saja ketika Shalat jum’at di beberapa Mesdjid, inilah pemimpin ideal yang sudah jarang kita temui di masa saat ini. Pejabat sekarang terkurung dengan protokoler atau beliau beliau itu menikmati protokoler itu kita tidak paham. Takutkah para Penguasa dekat dengan rakyat kecil, ataukah rakyat yang tidak berkenan menerima mereka. Bisa jadi kehadiran bapak bapak itu akan membikin macet, bikin repot, atau harus menyiapkan karpet merah dan fasilitas standard istana. Mana ada Mesdjid yang mampu menyiapkan segala sesuatu fasilitas itu, Bapak.
Seharusnya Shalat Jum’at sebagai ajang silaturahmi dengan rakyat kecil bisa di jadikan kegiatan rutinitas bagi para pemimpin orde reformasi, namun harapan masyarakat untuk berjumpa dengan pemimpinnya menjadi harapan hampa. Kecuali anda datang muhibah ke mesdjid Istana, siapa tahu bisa bersalaman dengan presiden Republik Indonesia. Kalau alasan protokol tidak bisa bersalaman anda bisa menyentuh dinding masjid sebagai alibi anda pernah kesana dan kalu dizinkan pengawal istana, berfotolah sejenak di beranda Mesdjid Baiturrahim.
Mari hari ini kita Shalat Jum’at di Istana, atau paling tidak di Mesdjid lain yang belum pernah ada datangi. Boleh juga menjadualkan shalat Jum’at di mesdjid Gedung DPR syukur syukur bisa menyampaikan aspirasi ke anggota dewan terhormat atau setidaknya bersalaman dan kalau boleh saling bertukar kartu nama, siapkan kartu nama yang tuliskan kompasiana.com/…….(your name)
Wassalamulaikum wr wb
Previous Article

Responses
0 Respones to "Shalat Jum’at 'ala Mantan Wapres Alm (Jurnalis) Adam Malik"
Posting Komentar